Senin, 16 Februari 2009

TUGAS SKENARIO PENKES KLIMAKTERIUM
Diperankan oleh :
Kartika Sari.D sebagai bidan
Rina Chandrasari sebagai pasien
Tanti Fitriyana sebagai moderator

( Pada suatu hari Ny.Y datang ke Bidan X untuk berkonsultasi tentang keadaan yang dialaminya ,Ny.Y merasa ada yang aneh pada dirinya, ia takut menderita suatu penyakit yang parah.Sesampainya di tempat bidan X,Ny.Y mengetok pintu dan mengucapkan salam....)

Ny.Y : Assalamualikum,permisi bu...
Bidan.X : Waalaikumsalam,mari bu silakan masuk,silakan duduk
Ny.Y : Iya bu,terima kasih
Bidan.X : bentar ya bu ditutup dulu tirainya,Sebelumnya perkenalkan dulu saya bidan X,ada
yang bisa saya bantu?
Ny.Y : oh...iya bu,saya cuma mau konsultasi saja kok
Bidan X : Sebelumnya dengan ibu siapa ya?
nY.y : Saya ibu Y
Bidan X : Umur...?
Ny.Y : 48 tahun
Bidan.X : Pekerjaan ibu?
Ny.Y : Saya hanya ibu rumah tangga
Bidan.X : Alamat/ibu tinggal?
Ny.Y : Aromasari Rt 09/Rw 01 Sukorejo kendal
Bidan.X : Gimana bu?
Ny.Y : Begini bu,sudah 1 tahun ini haid saya tidak teratur,saya takut kalau terjadi apa-apa
bu......
Bidan.X : baik bu,kira-kira ibu mendapatkan haid yang terakhir kapan?
Ny.Y : Saya haid terakhir kira-kira 3 bulan yang lalu
Bidan.X : selain haid ibu tidak teratur,keluhan apa lagi yang ibu rasakan ?
Ny.Y : Setiap malam saya sering kepanasan,lalu sering pusing dan sulit tidur bu.....
Bidan.X : Apa ibu sering marah,merasa pegal-pegal,sering kesemutan dan mudah capek?
Ny.Y : Iya bu,apakah saya sakit parah?
Bidan.X : oh,ibu tidak usah khawatir,dengan melihat kondisi ibu yang seperti sekarang ini,
apalagi umur ibu sudah mencapai 48 tahun kemungkinan ibu sedang mengalami
masa klimakterium
Ny.Y : Masa klimakterium itu apa to bu?
Bidan.X : masa klimakterium itu adalah masa peralihan antara masa reproduksi dimana ibu b
bisa hamil ke masa senium/masa tua,masa ini bukanlah suatu bahaya tetapi masa
yang normal dialami semua wanita,masa ini berlangsung beberapa tahun sebelum
dan sesudah ibu berhenti haid.Ini terjadi karena hormon estrogen dalam tubuh ibu
mulai menurun,bila selama ini ibu haid teratur setiap bulan,pada masa ini haid ibu
mulai tidak teratur,bisa lebih cepat atau lebih lama waktunya,sampai akhirnya ibu
tidak akan haid lagi.Selain haid tidak teratur gejala yang sering timbul antara lain
ibu mudah tersinggung,cepat lelah,depresi,dan sulit tidur.sedangkan gangguan saraf
yang tarjadi adalah rasa panas pada muka,banyak keringat terutama pada malam
hari juga sakit kepala.
Ny.Y : Oh begitu ya bu,terus bagaimana cara mengatasinya bu?
Bidan.X : Ibu harrus mulai hidup sehat dengan cara makan makanan bergizi serta pengaturan
diet tinggi kalsium dan rendah lemak.saya sarankan juga ibu menurunkan berat
badan,olahraga dan tidur teratur untuk mengurangi resiko teknan darah tinggi.ibu
juga harus banyak ibadah untuk menyeimbangi antara kebutuhan jasmani dan
rohani.Bila diperlukan ibu juga bisa berkunjung ke dokter spesialis obstetri dan
ginekologi atau spesialis kandungan untuk terapi hormonal.Apakah penjelasan saya
bisa dimengerti?
Ny.Y : iya bu saya mengerti
Bidan.X : ada yang perlu ditanyakan lagi?
Ny.Y : Tidak bu....
Bidan.X : Kalau ibu sudah mengerti,tolong diulangi penjelasan saya tadi
Ny.Y : Iya,melihat gejala-gejala yang saya alami,kemungkinan saya sedang mengalami
masa klimakterium dan apa yang saya alami adalah hal yang wajar dan akn dialami
oleh semua wanita,jadi saya tidak perlu khawatir.
Bidan.X : Apa saja yang harus ibu lakukan dengan keadaan seperti itu bu?
Ny.Y : Saya harus mulai hidup sehat dengan makan-makanan bergizi,diet rendah lemak
dan tinggi kalsium,olahraga teratur dan bila perlu datang ke dokter spesialis untuk
terapi hormonal
Bidan.X : Jadi mulai sekarang ibu tidak usah khawatir
Ny.Y : Iya bu kalau begitu saya permisi dulu,dan terimakasih banyak bu
Bidan.X : Iya bu sama-sama,bila ada keluhan lain silakan ibu datang kesini
Ny.Y : Iya bu,assalamualaikum
Bidan.X : Waalaikumsalam

Senin, 09 Februari 2009

MENOPAUSE & KLIMAKTERIK

Menopause adalah haid terakhir pada wanita, yang juga sering diartikan sebagai berakhirnya fungsi reproduksi seorang wanita. Oleh karena itu, tidak jarang seorang wanita takut menghadapi saat menopausenya. Kehidupan menjelang dan setelah menopause inilah yang sering disebut sebagai ‘masa senja’ atau masa klimakterium.
Istilah menopause seringkali disalah-artikan dengan klimakterium.
  1. Klimakterium adalah masa peralihan dalam kehidupan normal seorang wanita sebelum mencapai senium, yang mulai dari akhir masa reproduktif dari kehidupan sampai masa non-reproduktif.
  2. Masa klimakterium meliputi pramenopause, menopause, dan pascamenopause. Pada wanita terjadi antara umur 40-65 tahun.
  3. Klimakterium prekoks adalah klimakterium yang terjadi pada wanita umur kurang dari 40 tahun.
  4. Pramenopause adalah masa 4-5 tahun sebelum menopause, keluhan klimakterik sudah mulai timbul, hormon estrogen masih dibentuk. Bila kadar estrogen menurun maka akan terjadi perdarahan tak teratur.
  5. Menopause adalah henti haid yang terakhir yang terjadi dalam masa klimakterium dan hormon estrogen tidak dibentuk lagi, jadi merupakan satu titik waktu dalam masa tersebut. Umumnya terjadi pada umur 45-55 tahun.
  6. Pascamenopause adalah masa 3-5 tahun setelah menopause, dijumpai hiper-gonadotropin (FSH dan LH), dan kadang-kadang hipertiroid.
  7. Sindrom klimakterik klinis adalah keluhan-keluhan yang timbul pada masa pramenopause, menopause, dan pascamenopause.
  8. Sindrom klimakterik endokrinologis adalah penurunan kadar estrogen, peningkatan kadar gonadotropin (FSH dan LH). Disebut juga sebagai sindrom defisiensi estrogen.

Beberapa penulis menyatakan bahwa masa klimakterik adalah masa penyesuaian dari seorang wanita terhadap menurunnya produksi hormon-hormon yang dihasilkan ovarium dan dampaknya terhadap poros hipotalamus-hipofisis dan organ sasaran. Sudah lama diketahui bahwa hampir semua wanita menopause hidup dalam keadaan defisiensi estrogen. Kekurangan hormon ini menyebabkan menurunnya fungsi organ tubuh yang bergantung pada estrogen, seperti ovarium, uterus (rahim) dan endometrium. Kekuatan serta kelenturan vagina dan jaringan vulva menurun, dan akhirnya semua jaringan yang bergantung pada estrogen akan mengalami atrofi (mengkerut). Cepat atau lambat gangguan akibat kekurangan estrogen pasti akan muncul, yaitu berupa peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida, pengurangan jaringan tulang yang menjurus ke osteroporosis, gangguan psikis, kelelahan dan depresi. Keluhan-keluhan ini perlu dikenal agar dapat dilakukan penanganan yang tepat.
Sebagian pakar kesehatan berpendapat bahwa menopause merupakan peristiwa alamiah dan bukan diakibatkan oleh penyakit khusus (penyakit defisiensi hormon), sehingga tidak memerlukan pengobatan tetapi hanya membutuhkan pengertian dari keluarga, lingkungan dan dirinya sendiri. Namun banyak pula yang menganggap proses ini sebagai kelainan yang memerlukan pengobatan tersendiri.
Agar kehidupan usia senja ini berlangsung dalam kepuasan dan kebahagiaan, maka setiap wanita perlu mengadakan persiapan untuk menghadapinya. Salah satu persiapan yang penting adalah mengetahui organ tubuh kita sendiri dan fungsinya, serta mengenal bagaimanakah sebenarnya kejadian masa klimakterik itu.

Gejala-gejala sindrom klimakterik
Penurunan fungsi ovarium dapat berlangsung cepat pada sebagian wanita dan lebih lambat pada yang lainnya. Sebagian wanita menghasilkan estrogen endogen yang cukup sehingga tetap tanpa gejala, sedangkan yang lain memperlihatkan beragam gejala semasa klimakterium.
Gejala-gejalanya dapat dikelompokkan menjadi :

  1. Gangguan neurovegetatif (vasomotorik-hipersimpatikotoni) yang mencakup: · gejolak panas (hot flushes)
    · keringat malam yang banyak
    · rasa kedinginan
    · sakit kepala
    · desing dalam telinga
    · tekanan darah yang goyah
    · berdebar-debar
    · susah bernafas
    · jari-jari atrofi
    · gangguan usus (meteorismus)
  2. Gangguan psikis · mudah tersinggung
    · depresi
    · lekas lelah
    · kurang bersemangat
    · insomania atau sulit tidur
  3. Gangguan organik · infark miokard (gangguan sirkulasi)
    · atero-sklerosis (hiperkolesterolemia)
    · osteoporosis
    · gangguan kemih (disuria)
    · nyeri senggama (dispareunia)
    · kulit menipis
    · gangguan kardiovaskuler

PERUBAHAN-PERUBAHAN ORGANIK PADA MASA KLIMAKTERIK TD {font-family:Verdana;font-size:12}

Organ sasaran Bentuk perubahan Akibatnya
Urogenital Atrofi vulva, vagina, uterus, vesika
urinaria
Elastisitas menurun, mengecil, kering,mudah cedera, mudah infeksi
Hemodinamik Gangguan pembuluh darah tepi Infark miokard
Metabolisme Hiperkolesterolemia,kekurangan kalsium,gangguan metabolisme karbohidrat Aterosklerosis, osteoporosis,adipositas
Endokrin Hiperfungsi hipofisis,disfungsi tiroid, peningkatan androgen Hipertiroid, defeminisasi,virilisasi
Vegetatif Hipersimpatikotonik,ataksi Labil, gangguan somatik

Penyebab dan gangguan hormonal klimakterium
Perkembangan dan fungsi seksual wanita secara normal dipengaruhi oleh sistem poros hipotalamus-hipofisis-gonad yang merangsang dan mengatur produksi hormon-hormon seks yang dibutuhkan. Hipotalamus menghasilkan hormon gonadotropin releasing hormone (GnRH) yang akan merangsang kelenjar hipofisis untuk menghasilkan follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Kedua hormon FSH dan LH ini yang akan mempersiapkan sel telur pada wanita. FSH dan LH akan meningkat secara bertahap setelah masa haid dan merangsang ovarium untuk menghasilkan beberapa follicle (kantong telur). Dari beberapa kantong telur tersebut hanya satu yang matang dan menghasilkan sel telur yang siap dibuahi. Sel telur dikeluarkan dari ovarium (disebut ovulasi) dan ditangkap oleh fimbria (organ berbentuk seperti jari-jari tangan di ujung saluran telur) yang memasukkan sel telur ke tuba fallopii (saluran telur). Apabila sel telur dibuahi oleh spermatozoa maka akan terjadi kehamilan tetapi bila tidak, akan terjadi haid lagi. Begitu seterusnya sampai mendekati masa klimakterium, dimana fungsi ovarium semakin menurun.
Masa pramenopause atau sebelum haid berhenti, biasanya ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur. Pramenopause bisa terjadi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun sebelum menopause. Pada masa ini sebenarnya telah terjadi aneka perubahan pada ovarium seperti sklerosis pembuluh darah, berkurangnya jumlah sel telur dan menurunnya pengeluaran hormon seks. Menurunnya fungsi ovarium menyebabkan berkurangnya kemampuan ovarium untuk menjawab rangsangan gonadotropin. Hal ini akan mengakibatkan interaksi antara hipotalamus-hipofisis terganggu. Pertama-pertama yang mengalami kegagalan adalah fungsi korpus luteum. Turunnya produksi steroid ovarium menyebabkan berkurangnya reaksi umpan balik negatif terhadap hipotalamus. Keadaan ini akan mengakibatkan peningkatan produksi dan sekresi FSH dan LH. Peningkatan kadar FSH merupakan petunjuk hormonal yang paling baik untuk mendiagnosis sindrom klimakterik.
Secara endokrinologis, klimakterik ditandai oleh turunnya kadar estrogen dan meningkatnya pengeluaran gonadotropin. Pada wanita masa reproduksi, estrogen yang dihasilkan 300-800 ng, pada masa pramenopause menurun menjadi 150-200 ng, dan pada pascamenopause menjadi 20-150 ng. Menurunnya kadar estrogen mengakibatkan gangguan keseimbangan hormonal yang dapat berupa gangguan neurovegetatif, gangguan psikis, gangguan somatik, metabolik dan gangguan siklus haid. Beratnya gangguan tersebut pada setiap wanita berbeda-beda bergantung pada:

  1. Penurunan aktivitas ovarium yang mengurangi jumlah hormon steroid seks ovarium. Keadaan ini menimbulkan gejala-gejala klimakterik dini (gejolak panas, keringat banyak, dan vaginitis atrofikans) dan gejala-gejala lanjut akibat perubahan metabolik yang berpengaruh pada organ sasaran (osteoporosis).
  2. Sosio-budaya menentukan dan memberikan penampilan yang berbeda dari keluhan klimakterik
  3. Psikologik yang mendasari kepribadian wanita klimakterik itu, juga akan membe-rikan penampilan yang berbeda dalam keluhan klimakterik.

Keluhan-keluhan
Sekitar 40-85% dari semua wanita dalam usia klimakterik mempunyai keluhan. Gejala yang tetap dan tersering adalah gejolak panas dan keringat banyak. Gejolak panas merupakan sensasi seperti gelombang panas yang meliputi bagian atas dada, leher, dan muka. Keluhan ini biasanya diikuti oleh gejala-gejala psikologik berupa rasa takut, tegang, depresi, lekas marah, mudah tersinggung, gugup dan jiwa yang kurang mantap.
Keluhan lain dapat berupa sakit kepala, sukar tidur, berdebar-debar, rasa kesemutan di tangan dan kaki, serta nyeri tulang dan otot. Keringat malam hari merupakan keluhan yang sangat mengganggu, sehingga menimbulkan lelah dan kesukaran bangun pagi. Semua keluhan ini kurang menggembirakan bagi seorang wanita, dan mendorong penderita mencari pengobatan.
Atrofi epitel genital dapat mengakibatkan vaginitis senilis. Gejala-gejalanya mencakup: iritasi, rasa terbakar, pruritus, leukorea, dispareunia, perdarahan vaginal, penurunan sekresi vaginal, penipisan epitel dan mudah kena trauma, pemendekan dan pengurangan kelenturan vagina. Kebanyakan masalah seksual dialami oleh wanita pascamenopause adalah karena status fisis dari mukosa vagina, yang harus memelihara kelembaban protektif yang cukup dan memberikan pelumas selama sanggama. Setelah menopause, perubahan atrofik dapat menyebabkan dispareunia, vaginitis, vaginismus, tak-nyaman fisis, dan hilang minat seksual.
Kulit wanita banyak dipengaruhi oleh estrogen sehingga menimbulkan kulit kehilangan elastisitasnya, berkerut, kering dan menjadi lebih tipis. Hal tersebut mengurangi kecantikan seorang wanita, sehingga wanita merasa kurang percaya diri lagi (dan dapat menambah ketidakseimbangan emosi wanita tersebut).
Gangguan psikogenik, ini mencakup : peningkatan rasa gelisah, depresi, mudah cemas, insomnia, dan sakit kepala. Keadaan lain yang dapat diperberat oleh gejala menopause mencakup : masalah psikosomatik yang telah ada yang diperkuat oleh gejolak panas, pola tidur yang diganggu oleh keringat malam, penurunan libido karena vaginitis atrofikans yang mengakibatkan dispareunia.
Osteoporosis adalah gangguan tulang yang terutama menyerang tulang trabekular, menyebabkan pengurangan kuantitas tulang sehingga mengakibatkan tulang keropos. Meskipun kedua jenis kelamin mengalami kehilangan massa tulang dengan proses menua, jarang bagi pria mengalami gejala osteoporosis sebelum usia 70.

Pengobatan menopause

  1. Penatalaksanaan umum Merupakan pendapat umum yang salah bahwa semua masalah klimakterik dan menopause dapat dihilangkan dengan hanya pemberian estrogen saja. Tujuan pengobatan dengan estrogen bukanlah memperlambat terjadinya menopause, melainkan memudahkan wanita-wanita tersebut memasuki masa klimakterium. Hubungan pribadi yang baik, saling percaya antara suami-istri, maupun antara dokter-penderita akan memberikan harapan yang besar akan kesembuhan. Pemberian obat-obat penenang bukanlah cara pengobatan yang terbaik. Psikoterapi superfisial oleh dokter keluarga sering sekali menolong.
  2. Pengobatan hormonal Menopause merupakan suatu peristiwa fisiologis dari keadaan defisiensi estrogen. Sindrom klimakterik pada umumnya terjadi akibat kekurangan estrogen, sehingga dengan sendirinya pengobatan yang tepat adalah pemberian estrogen, meski bukan tanpa risiko.
    Pada masa lalu, estrogen diberikan untuk selang waktu yang singkat dan kemudian berangsur-angsur dikurangi sehingga gejolak panas sirna. Konsep ini tidak berlaku lagi. Seorang wanita yang mengalami gejala-gejala menopause telah mengidap defisiensi estrogen dan akan tetap begitu sepanjang hayatnya. Defisiensi estrogen jangka panjang dapat menyebabkan berkembangnya osteoporosis, penyakit jantung aterosklerotik, dan mungkin perwujudan psikogenik.
    Program yang seimbang dari pengobatan estrogen-pengganti yang dikombinasikan dengan progestogen siklik merupakan pengobatan terbaik, karena tujuan nyata dari estrogen-pengganti adalah tidak hanya untuk meredakan gejala-gejala vasomotor melainkan juga untuk mencegah akibat metabolik seperti osteoporosis dan ateroskletosis.
    Pengobatan terpilih untuk vaginitis atrofikans adalah estrogen lokal dalam bentuk krim vaginal (misalnya Ovestin), yang diserap dengan baik ke dalam mukosa vagina. Pemakaian harian perlu diberikan untuk 1-2 minggu, kemudian 3 kali seminggu lazimnya cukup untuk dosis pemeliharaan.
    Pengobatan sistemik secara oral atau secara lain biasanya dimulai serentak. Pengobatan vaginal lokal terkadang dapat dihentikan setelah beberapa bulan, atau pengobatan krim vaginal mungkin dibutuhkan selain estrogen sistemik. Gejala iritatif cepat mereda dengan krim vaginal tetapi pemulihan aliran darah vaginal yang normal membutuhkan waktu hingga satu tahun.
    Lebih jauh, epitel vulva juga menjadi tipis dan dapat teriritasi atau mudah terinfeksi. Keadaan ini umumnya menunjukkan respons terhadap pemakaian krim estrogen vaginal, tetapi krim testosteron 1-2% mungkin diperlukan untuk kraurosis vulva atau kondisi vulva atrofik atau leukoplakik lain. Gatal (pruritus) vulva terkadang membutuhkan krim hidrokortison 1% atau krim kortikosteroid lain untuk memulihkan sebagai tambahan bagi krim estrogen atau testosteron.
    Keutuhan mukosa traktus urinarius bawah bergantung pada estrogen. Oleh karena itu defisiensi estrogen dapat menghasilkan gejala-gejala iritatif, seperti: nyeri berkemih (disuria), rasa terbakar ketika berkemih, radang kandung kemih (sistitis), karunkula uretra, dan uretritis nir-gonokokus. Keadaan ini berespons paling baik terhadap pemakaian lokal krim estrogen vaginal serentak dengan pemulaan pengobatan estrogen oral.

Persyaratan pemakaian sulih estrogen
Sebelum pemberian estrogen dimulai, perlu diketahui persyaratan-persyaratan :

  1. apakah tekanan darah normal,
  2. adalah kelainan atau keganasan pada serviks dan payudara,
  3. apakah uterus membesar,
  4. apakah hati dan kelenjar tiroid normal,
  5. apakah terdapat varises.

Bila terdapat kelainan pada keadaan seperti ini, maka estrogen tidak dapat digunakan.
Pemberian estrogen secara oral dapat menimbulkan gejala gastrointestinal seperti mual dan muntah. Selain itu estrogen akan dihancurkan di hati, sehingga akan memicu pembentukan renin dalam jumlah besar. Renin ini meningkatkan tekanan darah. Atas dasar ini, para ilmuwan lebih menyukai pemberian estrogen dengan cara lain seperti krim atau yang dapat ditempelkan pada kulit.
Pada pemberian oral, sebaiknya dimulai dengan estrogen lemah (estriol) dan dengan dosis rendah yang efektif. Setiap penggunaan estrogen kuat (etinil-estradiol, estrogen konjugasi) sebaiknya selalu digabungkan dengan progesteron. Pemberian progesteron bertujuan mencegah terjadinya keganasan pada endometrium dan payudara. Pemberian siklik adalah pemberian selama 21 hari dengan 7 hari tanpa hormon (istirahat) atau pemberian estrtogen selama 14 hari, kemudian diikuti pemberian progesteron selama 7 hari.
Pemberian estrogen lemah tidak dapat menghilangkan gejala sistemik dan tidak begitu baik digunakan untuk pencegahan penyakit jantung koroner dan osteoporosis. Estrogen lemah sangat efektif untuk menghilangkan keluhan urogenital, yang paling banyak dianjurkan penggunaannya adalah estrogen alamiah (estrogen konjugasi) maupun progesteron alamiah (MPA, didrogestron). Estrogen dan progesteron jenis ini tidak terlalu membebani hati.
Cara yang paling mudah adalah pemberian pil KB. Pemberian secara siklik memberikan keuntungan karena pengobatan estrogen yang malar (terus-menerus) dapat memacu proliferasi jaringan dan perdarahan uterus yang atipik. Pemberian estrogen dan progesteron (atau pil KB) pada wanita pramenopause selain dapat mengurangi keluhan, juga dapat mengatur siklus haid dan mencegah kehamilan, sedangkan pemberian estrogen dan progesteron pada masa pascamenopause selain dapat mengurangi keluhan, juga merupakan pencegahan terhadap terjadinya osteroporosis dan infark miokard.
Pemberian secara topikal berupa krim atau pessarium hanya dilakukan jika ada perubahan pada vagina yang menyebabkan dispareunia atau bila tidak memungkinkan pemberian secara oral. Meskipun diberikan secara topikal, ternyata sejumlah kecil estrogen dapat diserap ke dalam darah, sehingga perlu juga ditambahkan progesteron. Perlu diketahui bahwa pemakaian ke dalam vagina dapat pula mengenai suami ketika melakukan sanggama. Penanaman susuk (implant atau pellet) subkutan tidak boleh dilakukan pada wanita yang masih memiliki uterus karena dapat terjadi perdarahan hebat dan sulit diatasi. Cara ini paling baik digunakan pada wanita yang telah diangkat rahimnya.
Pemberian transdermal (ditempelkan pada kulit) merupakan cara terbaru dan sudah banyak dipakai di beberapa negara maju. Keuntungan utama cara ini adalah bahwa estrogen langsung masuk ke sirkulasi darah tanpa harus melalui hati. Pemberian cara ini sangat baik untuk mencegah osteoporosis serta tidak meningkatkan kadar renin, aldosteron, maupun lipid.

Pemberian hormon
Lama pemberian hormon steroid seks
Lama pemberian hormon steroid seks selama 6 bulan tidak cukup, karena begitu obatnya dihentikan maka keluhannya segera timbul kembali. Pada umumnya keluhan akan hilang bila pengobatan berlangsung 18-24 bulan. Bila perlu estrogen dapat diberikan selama 8-10 tahun, bahkan dapat sampai 30-40 tahun. Selama pemakaiannya dikombinasikan dengan progesteron, jarang sekali terjadi keganasan. Yang terpenting adalah kepada semua wanita diberikan keterangan yang cukup dan jelas.
Risiko pemberian estrogen
Telah lama diketahui bahwa pemberian estrogen pada wanita menopause merupakan cara yang tepat. Banyak ahli berpendapat bahwa estrogen dapat menimbulkan keganasan pada wanita. Pendapat ini akhirnya membuat banyak wanita takut dan ragu-ragu menggunakan estrogen. Padahal bila estrogen digunakan bersamaan dengan progesteron kemungkinan terjadinya keganasan adalah sangat kecil. Keganasan akan timbul bila memang wanita itu memiliki faktor risiko untuk terkena keganasan. Risiko tersebut dapat berupa obesitas, diabetes mellitus, siklus haid tak teratur, anovulasi, dan infertilitas, perokok, dan peminum alkohol.
Selama penggunaan estrogen, setiap wanita diharuskan kontrol secara teratur. Usaha ini merupakan jaminan yang terbaik bagi kesehatan wanita tersebut. Perdarahan yang tak teratur, jumlahnya banyak, defekasi dan miksi bercampur darah merupakan hal yang perlu dicurigakan terhadap keganasan. Hal-hal seperti ini tidak perlu menimbulkan kekhwatiran yang berlebih-lebihan, tetapi merupakan suatu alasan untuk mau berkonsultasi dengan dokter.
Setiap wanita di atas usia 40 tahun diharuskan memeriksakan diri ke dokter paling sedikit 2 kali setiap tahun. Dengan pemeriksaan yang sederhana saja seperti uji Pap (Pap smear) dan perabaan payudara karena dapat mengetahui adanya kegasanaan pada stadium dini.

Masalah Psikologis
Semua gejala psikologis yang timbul pada masa pubertas maupun pada masa klimakterik seperti rasa takut, tegang, rasa sedih, mudah tersinggung dan depresi sebenarnya sangat bergantung pada perubahan hormonal tubuh wanita itu sendiri. Pemberian estrogen dengan dosis rendah dapat mengatasi masalah tersebut. Walaupun ini tidak berarti bahwa semua gejala psikis hanya disebabkan oleh berkurangnya hormon estrogen saja.
Ada penyebab lain yang menimbulkan gangguan psikis. Seorang ibu rumah tangga yang memusatkan kehidupannya hanya untuk membesarkan anak-anaknya lebih mudah mengalami gangguan psikis. Umumnya wanita ini diliputi rasa takut untuk hidup sendiri kelak. Takut karena anak-anaknya nanti akan pergi meninggalkannya seorang diri. Lain lagi halnya bagi seorang wanita yang bekerja di luar rumah. Kesibukan yang dihadapinya di tempat kerja dengan sendirinya akan melupakan keluhan. Tetapi ada juga di antara wanita tersebut justru dengan bekerja keluhan-keluhannya bertambah berat. Mereka takut tidak dapat bekerja dengan baik lagi, takut kehilangan pekerjaannya. Kesemua ini menjadi beban tambahan yang berat, sehingga untuk mengatasi hal ini mereka tidak jarang menggunakan obat-obat penenang atau minum alkohol. Mereka lupa, bahwa obat-obat penenang akan membuat ketergantungan yang terus menerus. Padahal konsultasi dengan seorang dokter saja sudah cukup dapat mengatasi masalah yang dihadapi.
Disfungsi seksual pada wanita menopause, lama dianggap oleh ahli psikologi dan ahli psikoterapi sebagai gangguan psikogenik, telah menunjukkan respons terhadap pengobatan hormonal. Penyembuhan dapat dilakukan dengan estrogen, meliputi krim estrogen vaginal, untuk keluhan seperti vagina kering dan dispareunia dan dengan androgen untuk keluhan kehilangan gairah seksual.
Penting dicatat bahwa wanita pascamenopause telah kehilangan hingga separo dari produksi androgen. Walaupun kebanyakan wanita pascamenopause menunjukkan repons yang baik terhadap pengobatan estrogen-progestogen, beberapa membutuhkan tambahan androgen. Wanita yang diobati dengan substitusi estrogen-androgen adalah lebih composed, elated, dan energetik daripada yang diobati dengan estrogen saja. Penambahan androgen memperkuat gairah seksual dan meningkatkan frekuensi khayal seksual bilamana dibandingkan dengan estrogen saja atau plasebo. Pada Yale Mid-Life Study Program, androgen tidak rutin diberikan kecuali ada defisiensi pada kadar testosteron total atau bebas.
Kehidupan seks pada masa klimakterium Banyak wanita yang berpendapat bahwa hubungan seks tidak mungkin dilakukan lagi pada masa klimakterium. Pendapat seperti ini tidak dapat dibenarkan lagi. Hubungan seks tetap dapat dilakukan meskipun usia telah lanjut.
Akibat kekurangan estrogen, vagina menjadi kering dan mudah cedera sehingga terasa sakit sewaktu bersanggama. Rasa sakit ini dapat dihilangkan hanya dengan pemberian hormon berupa tablet estrogen oral maupun berupa krem vagina. Berkonsultasi dan meminta nasihat dokter tetap merupakan cara terbaik. Masalah utama yang menyebabkan seorang wanita tidak mau melakukan hubungan seks adalah faktor psikis wanita tersebut. Mereka takut, gelisah, tegang, sehingga sulit untuk melakukannya. Keadaan serupa terkadang juga ditemukan pada suami. Istri dan suami mengeluh bahwa mereka sudah tua, kulit sudah keriput dan badan lemah. Untuk apa melakukan hubungan seks lagi. Sekali lagi ditekankan di sini bahwa pendapat tersebut tidak dapat dibenarkan.
Hubungan seks sangat berperan pada keserasian hubungan suami istri. Setiap masalah yang timbul akan menyebabkan ke-retakan dalam rumah tangga. Untuk memecahkan masalah-masalah seperti ini, perlu dicari orang ketiga untuk mengemukakan semua masalah tersebut, dan cara yang sederhana ini acapkali mampu menyelesaikan masalah yang ada.

Pencegahan beberapa dampak masa klimakterium

  1. Pencegahan kehamilan
    Banyak wanita 40-50 tahun menjadi gelisah bila haidnya tiba-tiba berhenti atau menjadi tidak teratur. Hal yang pertama sekali dipikirkan tentu hamil atau tidak. Tetapi ada juga wanita yang berpendapat, bahwa bila usia sudah di atas 40 tahun dan haid tidak teratur pasti tidak mungkin hamil lagi. Perkiraan seperti ini sudah tidak dapat dibenarkan lagi. Haid yang tidak teratur hanya menunjukkan bahwa pematangan ovum tidak terjadi lagi secara siklis, tetapi bukan berarti tidak dapat terjadi pembuahan. Pencegahan kehamilan harus tetap dilakukan. Kehamilan pada usia ini mempunyai risiko baik bagi ibu yang hamil maupun bagi janinnya.
    Semua jenis kontrasepsi alamiah seperti pantang berkala, pencatatan suhu basal badan, maupun bentuk lainnya sebaiknya tidak dipakai. Cara ini hanya dapat digunakan pada wanita yang siklus haidnya masih teratur.
    Penggunaan pil sebagai kontrasepsi, selain dapat mengatur siklus haid juga sekaligus dapat menghilangkan keluhan klimakterik. Kerugiannya adalah bahwa dengan siklus haid yang teratur tidak dapat ditentukan saat wanita tersebut memasuki menopause. Bila sudah tidak haid lagi dua belas bulan berturut-turut, sudah pasti wanita itu memasuki usia menopause, sehingga kehamilan sudah tidak mungkin terjadi.
  2. Pencegahan osteoporosis
    Pencegahan osteoporosis pascamenopause bukan hanya bergantung pada estrogen, karena pengobatan dengan progestogen juga efektif dalam mencegah kehilangan tulang (bone loss). Penambahan progestogen ke pengobatan estrogen mungkin penting dalam mencegah osteoporosis tetapi mungkin penting dalam mengobati penderita yang telah mengalami osteoporosis.
    Sementara kebanyakan kajian menunjukkan bahwa pengobatan estrogen menghambat penyerapan kalsium dari tulang, sangat mungkin dengan memulihkan kadar kalsitonin yang turun setelah menopause, sekurang-kurangnya 3 kajian telah memperli-hatkan bahwa kombinasi pengobatan estrogen-progestogen sesungguhnya meningkatkan massa tulang dengan memajukan pembentukan tulang baru.
    Dalam kajian prospektif tersamar ganda 10 tahun, terlihat perbedaan bermakna antara penderita yang memperoleh pengobatan estrogen-progestogen siklik dan kelompok yang diberikan plasebo. Pada wanita yang diberikan pengobatan kombinasi estrogen-progestogen kurang dari 3 tahun setelah awitan menopause, densitas tulang secara nyata meningkat. Meskipun ada beberapa demineralisasi pada pemakai estrogen-progestogen bilamana pengobatan dimulai lebih lama daripada 3 tahun setelah menopause, kehilangan massa tulang secara bermakna lebih rendah daripada pada kedua kelompok plasebo. Kajian itu menekankan pentingnya memulai substitusi estrogen-progestogen secara dini pada menopause, tetapi ini juga menunjukkan bahwa hormon-hormon ini bermanfaat untuk wanita osteoporotik, tanpa memandang usia. Patut dicatat bahwa es-trogen konjugasi 2,5 mg sehari merupakan dosis yang digunakan pada kajian ini.
    Pada kajian silang yang membandingkan khasiat pengobatan estrogen-progesteron dengan plasebo, kandungan mineral tulang meningkat selama 3 tahun pengobatan hormon kombinasi tetapi terus menurun pada kelompok yang diberikan plasebo. Bilamana beberapa penderita dalam kelompok estrogen-pro-gestogen ditukar ke plasebo, densitas tulang menurun. Massa tulang juga meningkat pada wanita yang diberikan plasebo setelah ditukar ke pengobatan hormon aktif.
    Kelompok lain membandingkan khasiat estrogen saja dengan kombinasi estrogen-progestogen terhadap parameter metabolik dari kehilangan tulang : (a) kalsium plasma, (b) nisbah kal-sium/kreatinin urin, dan (c) hidroksiprolin. Semua nilai berkurang dengan pengobatan estrogen dan menurun lebih lanjut bilamana progestogen ditambahkan ke estrogen.
  3. Pencegahan penyakit jantung koroner
    Beberapa kajian terbaru menyarankan bahwa estrogen dapat memberikan khasiat protektif terhadap penyakit kardiovasku-ler, terutama bilamana dipakai estrogen alamiah dosis rendah yang cukup untuk memulihkan gejala menopause. Penurunan 63% pada harapan kematian akibat penyakit jantung diamati pada 1.000 wanita yang dibati dengan estrogen yang diawasi selama 15 tahun. Pada wanita yang diobati selama 25 tahun yang diawasi selama 25 tahun dan dibandingkan dengan yang tidak pernah memakai estrogen, ditemukan penurunan bermakna pada : (a) penyakit arterikoroner, (b) gagal jantung kongestif, (c) penyakit kardiovaskuler aterosklerotik, dan (d) hipertensi.
    The Nurses’ Heart Study memastikan bahwa :
    1. pemakaian estrogen pascamenopause secara bermakna mengurangi penyakit jantung koroner.
    2. pemakaian sekarang mengurangi risiko bahkan lebih rendah.
    3. manfaat ini diperoleh setelah penyesuaian terhadap faktor-faktor seperti : - merokok
      - hipertensi
      - diabetes
      - kolesterol tinggi
      - riwayat infark miokard pada orangtua
      - riwayat pemakaian kontrasepsi oral
      - obesitas

Pada suatu kohort dari 2.270 wanita dari The Lipid Re-search Clinics yang diikuti selama 8 tahun, terdapat 44 ke-matian dikarenakan penyakit kardiovaskuler diantara 1.677 bukan pemakai estrogen dan 6 kematian dalam 593 pemakai estrogen. Kajian ini menyimpulkan bahwa khasiat protektif dari estrogen diperatarai oleh kadar HDL yang meningkat.
Suatu kajian epidemiologik menunjukkan suatu pengurangan bermakna pada laju kematian infark miokard akut diantara pe-makai estrogen. Suatu pengurangan laju perawatan (hospitalization) untuk penyakit arteri koroner juga diamati pada pemakai estrogen dibandingkan bukan pemakai estrogen.
Hampir setiap kajian lain telah memastikan khasiat protektif pemakaian estrogen terhadap aterosklerosis koroner bahkan setelah penyesuaian untuk usia, merokok, diabetes, kolesterol dan hipertensi. Kadar HDL yang lebih tinggi dian-tara pemakai estrogen mungkin menunjukkan mekanisme biologik, yang dengan cara ini pemakaian estrogen pascamenopause merendahkan risiko oklusi koroner. Hanya satu kajian yang gagal memastikan khasiat yang berguna dari estrogen terhadap penyakit jantung. The Framingham Heart Study memastikan perbaikan bermakna pada pemakai estrogen bilamana dibanding-kan dengan bukan pemakain pada : kolesterol HDL, LDL, nisbah kolesterol terhadap kolesterol HDL. Kajian ini menyimpulkan bahwa pemakaian estrogen menghasilkan pola lipid yang lebih menguntungkan, tetapi mortalitas kardiovaskuler tidak ber-beda antara pemakai estrogen dan kontrol.

Keseimbangan pada masa klimakterium
Pada kenyataannya sebagian wanita klimakterik hidup tanpa keluhan, sedangkan sebagian lagi hidup bertahun-tahun dengan keluhan. Kontroversi belum seluruhnya terungkap secara jelas. Dahulu penelitian bidang reproduksi berpusat pada masalah menars (haid yang pertama). Dewasa ini menopause telah menarik perhatian para ilmuwan untuk diteliti. Dengan kemajuan teknologi dan makin meningkatnya taraf kehidupan, maka usia harapan hidup wanita di Indonesia. Keadaan ini akan menimbulkan masalah medis yang memerlukan penanganan.
Pengalaman menunjukkan bahwa wanita yang hidup hanya memikirkan kemajuan anaknya akan sangat mudah mendapat gangguan dalam usia klimakterik. Keluhan-keluhan ini akan bertambah berat begitu si anak pergi untuk mencari kehidupan sendiri, meninggalkan sang ibu yang merasa kesepian. Seorang wanita pekerja memasuki usia klimakterik dapat lebih mudah atau kadang-kadang lebih berat. Lebih berat karena ia harus dapat meningkatkan kemampuannya untuk dapat bekerja sebaik-baiknya, atau takut kehilangan tempat kerjanya. Lebih mudah, karena ia dapat berhubungan dengan dunia luar dan disibukkan oleh pekerjaannya. Ia memiliki kesempatan untuk membicarakan masalah yang dihadapi dengan teman-teman di tempat ia bekerja.

  • Wanita yang hidup dengan keluhan klimakterik dapat mencoba mengubah sendiri keadaan tersebut. Ada beberapa cara yang dapat digunakan, seperti :
    • makanan yang bergizi cukup, dan pengaturan diet terutama diet tinggi kalsium dan rendah lemak
    • menghindari peningkatan berat badan dan bila sudah terlanjur gemuk berat badan perlu diturunkan.
    • Olahraga dan tidur yang teratur, mengurangi kenaikan tekanan darah dan obstipasi.
    • Carilah ketenangan dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan.
    • Jauhkanlah diri dari pekerjaan yang menjemukan.
    • Pendekatan dengan dokter keluarga atau orang ketiga lain yang dianggap sesuai untuk membicarakan masalah yang sedang dihadapi.
      Klimakterium bukanlah akhir dari segala-galanya. Memang masa muda telah berlalu, tetapi bukan berarti kita hanya hidup untuk memikirkan nilai yang berguna untuk masyarakat. Senja di usia tidaklah berarti senja di kehidupan.
  • Minggu, 08 Februari 2009

    Menopause

    Menopause
    DEFINISI
    Menopause (Klimakterium) adalah suatu masa peralihan dalam kehidupan wanita, dimana:
    - ovarium (indung telur) berhenti menghasilkan sel telur
    - aktivitas menstruasi berkurang dan akhirnya berhenti
    - pembentukan hormon wanita (estrogen dan progesteron) berkurang.

    Menopause sebenarnya terjadi pada akhir siklus menstruasi yang terakhir. Tetapi kepastiannya baru diperoleh jika seorang wanita sudah tidak mengalami siklusnya selama minimal 12 bulan.
    Menopause rata-rata terjadi pada usia 50 tahun, tetapi bisa terjadi secara normal pada wanita yang berusia 40 tahun.
    Biasanya ketika mendekati masa menopause, lama dan banyaknya darah yang keluar pada siklus menstruasi cenderung bervariasi, tidak seperti biasanya.

    Pada beberapa wanita, aktivitas menstruasi berhenti secara tiba-tiba, tetapi biasanya terjadi secara bertahap (baik jumlah maupun lamanya) dan jarak antara 2 siklus menjadi lebih dekat atau lebih jarang.
    Ketidakteraturan ini bisa berlangsung selama 2-3 tahun sebelum akhirnya siklus berhenti.

    PENYEBAB
    Sejalan dengan pertambahan usia, ovarium menjadi kurang tanggap terhadap rangsangan oleh LH dan FSH, yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa.
    Akibatnya ovarium melepaskan lebih sedikit estrogen dan progesteron dan pada akhirnya proses ovulasi (pelepasan sel telur) berhenti.

    Menopause dini adalah menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun.
    Kemungkinan penyebabnya adalah faktor keturunan, penyakit autoimun dan rokok.

    Menopause buatan terjadi akibat campur tangan medis yang menyebabkan berkurangnya atau berhentinya pelepasan hormon oleh ovarium.
    Campur tangan ini bisa berupa pembedahan untuk mengangkat ovarium atau untuk mengurangi aliran darah ke ovarium serta kemoterapi atau terapi penyinaran pada panggul untuk mengobati kanker.
    Histerektomi (pengangkatan rahim) menyebabkan berakhirnya siklus menstruasi, tetapi selama ovarium tetap ada hal tersebut tidak akan mempengaruhi kadar hormon dan tidak menyebabkan menopause.

    GEJALA
    Gejala-gejala dari menopause disebabkan oleh perubahan kadar estrogen dan progesteron. Karena fungsi ovarium berkurang, maka ovarium menghasilkan lebih sedikit estrogen/progesteron dan tubuh memberikan reaksi.
    Beberapa wanita hanya mengalami sedikit gejala, sedangkan wanita yang lain mengalami berbagai gejala yang sifatnya ringan sampai berat. Hal ini adalah normal.
    Berkurangnya kadar estrogen secara bertahap menyebabkan tubuh secara perlahan menyesuaikan diri terhadap perubahan hormon, tetapi pada beberapa wanita penurunan kadar estrogen ini terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan gejala-gejala yang hebat. Hal ini sering terjadi jika menopause disebabkan oleh pengangkatan ovarium.

    Gejala-gejala yang mungkin ditemukan pada wanita menopause adalah:
    1. Hot flashes terjadi akibat peningkatan aliran darah di dalam pembuluh darah wajah, leher, dada dan punggung. Kulit menjadi merah dan hangat disertai keringat yang berlebihan.
      Hot flashes dialami oleh sekitar 75% wanita menopause. Kebanyakan hot flashes dialami selama lebih dari 1 tahun dan 25-50% wanita mengalaminya sampai lebih dari 5 tahun.
      Hot flashes berlangsung selama 30 detik sampai 5 menit.
    2. Vagina menjadi kering karena penipisan jaringan pada dinding vagina sehingga ketika melakukan hubungan seksual bisa timbul nyeri.
    3. Gejala psikis dan emosional (kelelahan, mudah tersinggung, susah tidur dan gelisah) bisa disebabkan oleh berkurangnya kadar estrogen.
      Berkeringat pada malam hari menyebabkan gangguan tidur sehingga kelelahan semakin memburuk dan semakin mudah tersinggung.
    4. Pusing, kesemutan dan palpitasi (jantung berdebar).
    5. Hilangnya kendali terhadap kandung kemih (beser).
    6. Peradangan kandung kemih atau vagina.
    7. Osteoporosis (pengeroposan tulang).
      Resiko tinggi terjadinya osteoporosis ditemukan pada wanita yang:
      - kurus
      - merokok
      - mengkonsumsi alkohol secara berlebihan
      - mengkonsumsi kortikosteroid
      - memiliki asupan kalsium yang rendah
      - jarang berolah raga.
      Cedera ringan bisa menyebabkan fraktur (patah tulang). Fraktur paling sering terjadi pada tulang belakang, pinggul dan pergelangan tangan.
    8. Penyakit jantung dan pembuluh darah.
      Penurunan kadar estrogen menyebabkan meningkatnya kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan menurunnya kadar kolesterol HDL (kolesterol baik). Estrogen bertanggungjawab terhadap pembentukan lapisan epitel pada rongga rahim. Selama masa reproduktif, pembentukan lapisan rahim diikuti dengan pelepasan dinding rahim pada setiap siklus menstruasi.
      Berkurangnya kadar estrogen pada menopause menyebabkan tidak terjadinya pembentukan lapisan epitel pada rongga rahim. Tetapi hormon androgenik yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal diubah menjadi estrogen dan kadang hal ini menyebabkan perdarahan pasca menopause.
      Hal ini tidak perlu dirisaukan, tetapi karena perdarahan pasca menopause bisa merupakan petunjuk adanya suatu kelainan (termasuk kanker), maka dokter selalu memeriksa setiap perdarahan yang terjadi setelah menopause.

      Menopause

    DIAGNOSA
    Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

    Pada pemeriksaan Pap smear bisa diketahui adanya perubahan pada lapisan vagina akibat perubahan kadar estrogen.
    Pemeriksaan darah dan air kemih bisa digunakan untuk mengukur kadar estrogen, progestero serta estron dan estradiol plasma.

    PENGOBATAN
    Tidak semua wanita pasca menopause perlu menjalani Terapi Sulih Hormon (TSH). Setiap wanita sebaiknya mendiskusikan resiko dan keuntungan yang diperoleh dari TSH dengan dokter pribadinya.

    Banyak ahli yang menganjurkan TSH dengan tujuan untuk:
  • Mengurangi gejala menopause yang tidak diinginkan
  • Membantu mengurangi kekeringan pada vagina
  • Mencegah terjadinya osteoporosis.

    Beberapa efek samping dari TSH:
    - perdarahan vagina
    - nyeri payudara
    - mual
    - muntah
    - perut kembung
    - kram rahim.

    Untuk mengurangi resiko dari TSH dan tetap mendapatkan keuntungan dari TSH, para ahli menganjurkan:
  • Menambahkan progesteron terhadap estrogen
  • Menambahkan testosteron terhadap estrogen
  • Menggunakan dosis estrogen yang paling rendah.
  • Melakukan pemeriksaan secara teratur, termasuk pemeriksan panggul, dan Pap smear sehingga kelainan bisa ditemukan sedini mungkin.

    Estrogen tersedia dalam bentuk alami dan sintetis (dibuat di laboratorium).
    Estrogen sintetis ratusan kali lebih kuat dibandingkan estrogen alami sehingga tidak secara rutin diberikan kepada wanita menopause.
    Untuk mencegah hot flashes dan osteoporosis hanya diperlukan estrogen alami dalam dosis yang sangat rendah. Dosis tinggi cenderung menimbulkan masalah, diantaranya sakit kepala migren.

    Estrogen bisa diberikan dalam bentuk tablet atau tempelan kulit (estrogen transdermal).
    Krim estrogen bisa dioleskan pada vagina untuk mencegah penipisan lapisan vagina (sehingga mengurangi resiko terjadinya infeksi saluran kemih dan beser) dan untuk mencegah timbulnya nyeri ketika melakukan hubungan seksual.

    Wanita pasca menopause yang mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko menderita kanker endometrium. Resiko ini berhubungan dengan dosis dan lamanya pemakaian estrogen.
    Jika terjadai perdarahan abnormal dari vagina, dilakukan biopsi lapisan rahim.
    Mengkonsumsi progesteron bersamaan dengan estrogen dapat mengurangi resiko terjadinya kanker endometrium.

    Biasanya terapi sulih hormon estrogen tidak dilakukan pada wanita yang menderita:
    - atau pernah menderita kanker payudara atau kanker endometrium stadium lanjut
    - perdarahan kelamin dengan penyebab yang tidak pasti
    - penyakit hati akut
    - penyakit pembekuan darah
    - porfiria intermiten akut.
    Kepada wanita tersebut biasanya diberikan obat anti-cemas, progesteron atau klonidin untuk mengurangi hot flashes. Untuk mengurangi depersi, kecemasan, mudah tersinggung dan susah tidur bisa diberikan anti-depresi.

    Pemberian progesteron dengan estrogen
    Progesteron diberikan bersamaan dengan estrogen untuk mengurangi resiko terjadinya kanker endometrium.
    Biasanya estrogen dan progesteron diberikan setiap hari. Jadwal pemberian ini biasanya akan menyebabkan perdarahan vagina yang tidak teratur pada 2-3 bulan pertama dari terapi, akan tetapi sesudahnya perdarahan biasanya akan berhenti.
    Atau pemberian estrogen dan progesteron bisa dilakukan secara bergantian; selama 2 minggu setiap hari minum estrogen lalu selama beberapa hari minum progesteron dan estrogen, kemudian beberapa hari di akhir bulan sama sekali tidak minum estrogen maupun progesteron. Dengan jadwal ini, perdarahan vagina terjadi pada hari dimana hormon tidak diminum.
    Progesteron tersedia dalam bentuk tablet atau suntikan melalui otot.
    Efek samping dari progesteron adalah perut kembung, sakit payudara, sakit kepala, perubahan suasana hati dan jerawat.


  • Kamis, 05 Februari 2009

    ALAT REPRODUKSI WANITA

    Terdiri alat / organ eksternal dan internal, sebagian besar terletak dalam rongga panggul.
    Eksternal (sampai vagina) : fungsi kopulasi
    Internal : fungsi ovulasi, fertilisasi ovum, transportasi blastocyst, implantasi, pertumbuhan fetus, kelahiran.
    Fungsi sistem reproduksi wanita dikendalikan / dipengaruhi oleh hormon-hormon gondaotropin / steroid dari poros hormonal thalamus - hipothalamus - hipofisis - adrenal - ovarium.
    Selain itu terdapat organ/sistem ekstragonad/ekstragenital yang juga dipengaruhi oleh siklus reproduksi : payudara, kulit daerah tertentu, pigmen dan sebagainya.

    GENITALIA EKSTERNA

    Vulva
    Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons pubis, labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum, kelenjar-kelenjar pada dinding vagina.

    Mons pubis / mons veneris
    Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis.
    Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis.

    Labia mayora
    Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung pleksus vena.
    Homolog embriologik dengan skrotum pada pria.
    Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia mayora.
    Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu (pada commisura posterior).

    Labia minora
    Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.

    Clitoris
    Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina.
    Homolog embriologik dengan penis pada pria.
    Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut saraf, sangat sensitif.

    Vestibulum
    Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora. Berasal dari sinus urogenital.
    Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum, introitus vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri. Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis.

    Introitus / orificium vagina
    Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan.
    Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk fimbriae). Bentuk himen postpartum disebut parous.
    Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada wanita pernah melahirkan / para.
    Hymen yang abnormal, misalnya primer tidak berlubang (hymen imperforata) menutup total lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna.

    Vagina
    Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid.
    Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi (persetubuhan).
    Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri.
    Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior dinding vagina, sangat sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal.

    Perineum
    Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra).
    Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina.
    Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.

    GENITALIA INTERNA

    Uterus
    Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa).
    Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus.
    Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan.
    Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks uteri.

    Serviks uteri
    Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum). Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil, setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang. Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan viskositas lendir serviks dipengaruhi siklus haid.

    Corpus uteri
    Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria.
    Proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan dan perkembangan wanita (gambar).

    Ligamenta penyangga uterus
    Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale, ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum vesicouterina, ligamentum rectouterina.

    Vaskularisasi uterus
    Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri ovarica cabang aorta abdominalis.

    Salping / Tuba Falopii
    Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang tuba kiri-kanan, panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri.
    Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta mukosa dengan epitel bersilia.
    Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding yang berbeda-beda pada setiap bagiannya (gambar).

    Pars isthmica (proksimal/isthmus)
    Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer gamet.
    Pars ampularis (medial/ampula)
    Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini.
    Pars infundibulum (distal)
    Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi “menangkap” ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium, dan membawanya ke dalam tuba.

    Mesosalping
    Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus).

    Ovarium
    Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari korteks dan medula.
    Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae “menangkap” ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi.
    Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.

    CATATAN :
    Letak / hubungan anatomik antara organ2 reproduksi (uterus, adneksa, dsb) dengan organ2 sekitarnya di dalam rongga panggul (rektum, vesika urinaria, uretra, ureter, peritoneum dsb), vaskularisasi dan persarafannya, silakan baca sendiri.

    ORGAN REPRODUKSI / ORGAN SEKSUAL EKSTRAGONADAL

    Payudara
    Seluruh susunan kelenjar payudara berada di bawah kulit di daerah pektoral. Terdiri dari massa payudara yang sebagian besar mengandung jaringan lemak, berlobus-lobus (20-40 lobus), tiap lobus terdiri dari 10-100 alveoli, yang di bawah pengaruh hormon prolaktin memproduksi air susu. Dari lobus-lobus, air susu dialirkan melalui duktus yang bermuara di daerah papila / puting. Fungsi utama payudara adalah laktasi, dipengaruhi hormon prolaktin dan oksitosin pascapersalinan.
    Kulit daerah payudara sensitif terhadap rangsang, termasuk sebagai sexually responsive organ.

    Kulit
    Di berbagai area tertentu tubuh, kulit memiliki sensitifitas yang lebih tinggi dan responsif secara seksual, misalnya kulit di daerah bokong dan lipat paha dalam.
    Protein di kulit mengandung pheromone (sejenis metabolit steroid dari keratinosit epidermal kulit) yang berfungsi sebagai ‘parfum’ daya tarik seksual (androstenol dan androstenon dibuat di kulit, kelenjar keringat aksila dan kelenjar liur). Pheromone ditemukan juga di dalam urine, plasma, keringat dan liur.

    POROS HORMONAL SISTEM REPRODUKSI

    Badan pineal
    Suatu kelenjar kecil, panjang sekitar 6-8 mm, merupakan suatu penonjolan dari bagian posterior ventrikel III di garis tengah. Terletak di tengah antara 2 hemisfer otak, di depan serebelum pada daerah posterodorsal diensefalon. Memiliki hubungan dengan hipotalamus melalui suatu batang penghubung yang pendek berisi serabut-serabut saraf.
    Menurut kepercayaan kuno, dipercaya sebagai “tempat roh”.
    Hormon melatonin : mengatur sirkuit foto-neuro-endokrin reproduksi. Tampaknya melatonin menghambat produksi GnRH dari hipotalamus, sehingga menghambat juga sekresi gonadotropin dari hipofisis dan memicu aktifasi pertumbuhan dan sekresi hormon dari gonad. Diduga mekanisme ini yang menentukan pemicu / onset mulainya fase pubertas.

    Hipotalamus
    Kumpulan nukleus pada daerah di dasar otak, di atas hipofisis, di bawah talamus.
    Tiap inti merupakan satu berkas badan saraf yang berlanjut ke hipofisis sebgai hipofisis posterior (neurohipofisis).
    Menghasilkan hormon-hormon pelepas : GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone), TRH (Thyrotropin Releasing Hormone), CRH (Corticotropin Releasing Hormone) , GHRH (Growth Hormone Releasing Hormone), PRF (Prolactin Releasing Factor). Menghasilkan juga hormon-hormon penghambat : PIF (Prolactin Inhibiting Factor).

    Pituitari / hipofisis
    Terletak di dalam sella turcica tulang sphenoid.
    Menghasilkan hormon-hormon gonadotropin yang bekerja pada kelenjar reproduksi, yaitu perangsang pertumbuhan dan pematangan folikel (FSH - Follicle Stimulating Hormone) dan hormon lutein (LH - luteinizing hormone).
    Selain hormon-hormon gonadotropin, hipofisis menghasilkan juga hormon-hormon metabolisme, pertumbuhan, dan lain-lain. (detail2, cari / baca sendiri yaaa…)

    Ovarium
    Berfungsi gametogenesis / oogenesis, dalam pematangan dan pengeluaran sel telur (ovum).
    Selain itu juga berfungsi steroidogenesis, menghasilkan estrogen (dari teka interna folikel) dan progesteron (dari korpus luteum), atas kendali dari hormon-hormon gonadotropin.

    Endometrium
    Lapisan dalam dinding kavum uteri, berfungsi sebagai bakal tempat implantasi hasil konsepsi.
    Selama siklus haid, jaringan endometrium berproliferasi, menebal dan mengadakan sekresi, kemudian jika tidak ada pembuahan / implantasi, endometrium rontok kembali dan keluar berupa darah / jaringan haid.
    Jika ada pembuahan / implantasi, endometrium dipertahankan sebagai tempat konsepsi.
    Fisiologi endometrium juga dipengaruhi oleh siklus hormon-hormon ovarium.

    (gambar)
    Histological appearance of endometrial tissues during the menstrual cycle.
    A. Normal proliferative (postmenstrual) endometrium, showing small, tube-like pattern of glands.
    B. Early secretory (postovulatory) endometrium, with prominent subnuclear vacuoles, alignment of nuclei, and active secretions by the endometrial glands.
    C. Late secretory (premenstrual) endometrium, with predecidual stromal changes.
    D. Menstrual endometrium, with disintegration of stroma / glands structures and stromal hemorrhage.

    HORMON-HORMON REPRODUKSI

    GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone)
    Diproduksi di hipotalamus, kemudian dilepaskan, berfungsi menstimulasi hipofisis anterior untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH / LH ).

    FSH (Follicle Stimulating Hormone)
    Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior, sebagai respons terhadap GnRH. Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium wanita (pada pria : memicu pematangan sperma di testis).
    Pelepasannya periodik / pulsatif, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 3 jam), sering tidak ditemukan dalam darah. Sekresinya dihambat oleh enzim inhibin dari sel-sel granulosa ovarium, melalui mekanisme feedback negatif.

    LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone)
    Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan progesteron.
    Pelepasannya juga periodik / pulsatif, kadarnya dalam darah bervariasi setiap fase siklus, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 1 jam). Kerja sangat cepat dan singkat.
    (Pada pria : LH memicu sintesis testosteron di sel-sel Leydig testis).

    Estrogen
    Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen. Pada pria, diproduksi juga sebagian di testis.
    Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta.
    Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita.
    Pada uterus : menyebabkan proliferasi endometrium.
    Pada serviks : menyebabkan pelunakan serviks dan pengentalan lendir serviks.
    Pada vagina : menyebabkan proliferasi epitel vagina.
    Pada payudara : menstimulasi pertumbuhan payudara.
    Juga mengatur distribusi lemak tubuh.
    Pada tulang, estrogen juga menstimulasi osteoblas sehingga memicu pertumbuhan / regenerasi tulang. Pada wanita pascamenopause, untuk pencegahan tulang keropos / osteoporosis, dapat diberikan terapi hormon estrogen (sintetik) pengganti.

    Progesteron
    Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta.
    Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik (fase sekresi) pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang optimal jika terjadi implantasi.

    HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)
    Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta). Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu (sampai sekitar 100.000 mU/ml), kemudian turun pada trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml), kemudian naik kembali sampai akhir trimester ketiga (sekitar 10.000 mU/ml).
    Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga memiliki fungsi imunologik.
    Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan (tes Galli Mainini, tes Pack, dsb).

    LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin
    Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum.
    Pada kehamilan, prolaktin juga diproduksi oleh plasenta (HPL / Human Placental Lactogen).
    Fungsi laktogenik / laktotropik prolaktin tampak terutama pada masa laktasi / pascapersalinan.
    Prolaktin juga memiliki efek inhibisi terhadap GnRH hipotalamus, sehingga jika kadarnya berlebihan (hiperprolaktinemia) dapat terjadi gangguan pematangan follikel, gangguan ovulasi dan gangguan haid berupa amenorhea.

    Rabu, 31 Desember 2008

    PERAN BIDAN PROFESIONAL DI ERA GLOBALISASI

    PERAN BIDAN PROFESIONAL DI ERA GLOBALISASI

    DI JAWA TIMUR


    Disusun oleh:

    1. Ana Rusdiana (12008004)

    2. Asih Trisnawati (12008015)

    3. Dona Wahyuana (12008032)

    4. Etik Suprihatin (12008040)

    5. Evi Okta Kholifasari (12008041)

    6. Heni Safitri (12008045)

    7. Mika Agustina (12008077)

    8. Olexandria Tamara B (12008092)

    9. Ratih Susanti (12008099)

    10. Rini Indarti (12008106)

    AKADEMI KEBIDANAN ESTU UTOMO BOYOLALI

    2008 / 2009

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia,taufik dan hidayah-Nya kepada kami.Dengan demikian kami masih bisa menyelesaikan makalah ini tanpa suatu halangan apapun.Tak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak,seperti :

    1. Bpk. Basirun Spd selaku dosen pembimbing mata kuliah Pendidikan Pancasila yang dengan penuh kesabaran memberikan bimbingan kepada kita sekalian.

    2. Bapak ibu selaku orang tua yang telah memberikan dukungan baik materiil maupun spirituiil

    3. Teman-teman sekalian yang juga memberikan dukungan hingga terselesaikannya makalah ini

    Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca

    Harapan kami semoga makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi semua pihak,semoga Allah SWT senantiasa memberi petunjuk terhadap segala upaya yang kami lakukan dalam menyelesaikan makalah ini.

    Penulis

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.

    Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)

    Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang.internet.public jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.

    Kalau saja tidak ada bidan, tidak bisa dibayangkan bagaimana kesibukan dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Baru terasa mules, atau mungkin pembukaan satu ibu hamil sudah ribut, dokter harus menunggu menjawab kengerian mereka. Memang pembangunan kesehatan di Indonesia masih diwarnai rawannya derajat kesehatan ibu dan anak, terutama pada kelompok yang paling rentan yaitu ibu hamil, ibu bersalin dan nifas serta bayi pada masa prenatal yang ditandai masih tingginya angka kematin ibu (AKI) karena melahirkan. Itu lah sebabnya, peran bidan dalam pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana perlu mendapat perhatian besar demi kelangsungan hidup ibu dan anak. Guna meningkatkan kualitas SDM bidan, Universitas Airlangga, Jawa Timur, bakal membuat terobosan sendiri dengan menyediakan diskon SPP bagi bidan di Jawa Timur yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan S-1 nya di kampus Unair. Seiring perkembangan era teknologi dan globalisasi saat ini, peran bidan menjadi ujung tombak kelangsungan hidup matinya seorang anak manusia yang lahir ke dunia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa 66% persalinan, 93% kunjungan antenatal dan 80 % dari pelayanan keluarga berencana dilakukan oleh bidan. Bidan sangat berperan dalam pencapaian 53 % prevalensi pemakaian kontrasepsi. Apalagi, 58% pelayanan kontrasepsi suntik dilakukan oleh bidan praktek swasta dan 25% pemakai kontrasepsi Pil, IUD dan implant dilayani oleh bidan praktek swasta. Disisi lain, sukses yang telah diraih selama ini menimbulkan tantangan baru bersama dengan kemajuan pembangunan di tanah air. Kesejahteraan yang semakin meningkat disertai dengan tingkat pendidikan masyarakat akan menimbulkan tuntutan kualitas pelayanan. Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sebagai organisasi profesi yang sangat peduli pada anggotanya serta sensitif pada masalah kesehatan yang ada di negara ini senantiasa memperhatikan tingkat profesionalisme para bidan. Berbagai upaya telah dilakukan IBI dengan melakukan kegiatan yang berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan anggota dalam pemberian pelayanan serta kelengkapan sarana sesuai standar. Dengan kekuatan organisasi pada setiap jenjang kepengurusan, hampir setiap cabang IBI telah mempunyai kantor sekretariat tempat melakukan aktifitas yang merupakan center pembinaan anggota, bahkan juga tempat pelayanan milik organisasi sebagai tempat meningkatkan ketrampilan anggota melalui program magang dan sekaligus merupakan tempat usaha yang berbadan hukum dengan nama Yayasan Buah Delima. Melalui kegiatan yayasan ini, IBI melengkapi kebutuhan para bidan baik berupa sarana pelayanan termasuk obat dan alat kontrasepsi maupun berupa dana untuk meningkatkan tempat pelayanan. Di sela kesibukan menempuh pendidikan formal tingkat akademi yang merupakan standar minimal pendidikan bidan atau lebih atas lagi, para pengurus masih menyempatkan melakukan pembinaan di setiap tingkat kepengurusan. Di tingkat provinsi diberikan kepada pengurus cabang dengan muatan kebijakan-kebijakan organisasi, pengembangan pengetahuan baru yang akan diteruskan kepada anggota di tingkat cabang dan ranting sebagai upaya pemberdayaan pengurus. Dan saat ini, IBI provinsi Jatim boleh berbangga hati karena pihak rektorat Universitas Airlangga bakal menyediakan peluang bagi bidan di Jatim untuk mengembangkan pengetahuan akademinya hingga jenjang S1 di kampus Unair. “Kemungkinan besar, bidan-bidan yang beruntung nanti akan mendapat korting SPPnya dari Unair, “ cetus Prof Dr H Haryono Suyono Guru Besar Universitas Airlangga ini saat berbicara dalam seminar Peningkatan Kualitas Bidan di kampus Unair dalam rangka memperingati 50 Tahun Unair, yang terselenggara atas kerjasama Ikatan Bidan Indonesia (IBI) provinsi Jawa Timur dengan Universitas Airlangga, Jatim. Ucapan Wakil Ketua I Yayasan Damandiri sebenarnya cukup beralasan, karena sebelumnya telah dilakukan pendekatan dengan banyak pihak, khususnya pihak rektorat. Dengan kata lain, Universitas Airlangga memang telah siap mengangkat para bidan se Jatim menjadi sarjana melalui program S1-nya. Hadir dalam seminar Pembantu Rektor I Unair, Prof Dr Fasikhul Ihsan, Sukaemi Sukir, SPd,-Ketua IBI provinsi Jatim dan Prof Muhammad Amin, Direktur Program Pascasarjana Unair.Jajaran pengurus IBI se Jatim memenuhi auditorium Fakultas Kedokteran UNAIR. Menurut Sukaemi, selain mengupayakan para bidan yang tergabung dalam IBI memperoleh tingkat pendidikan memadai, IBI juga melakukan kegiatan berupa seminar pendidikan berkelanjutan, pelatihan-pelatihan berbasis kompetensi (menggunakan standar WHO) yang telah dan sedang dilaksanakan di 75 % cabang, bahkan ada 4 kabupaten yang 100 % bidannya telah dilatih APN. Untuk mempertahankan kinerja pelayanan sesuai standar, IBI pun mempunyai program Peer Review yang sedang dan telah dilaksanakan di 40 % cabang. Mengantisipasi penerapan sistem legislasi dan lisensi oleh pemerintah melalui proses penilaian dan pemantauan terhadap pelayanan bidan, maka IBI bekerjasama dengan STARH, BKKBN dan DepKes telah memulai program peningkatan kualitas pelayanan yang sesuai dengan standar kesehatan WHO. Program ini dutujukan kepada semua bidan praktek swasta dan dinamakan Bidan Delima, suatu merk dagang yang punya standar sudah ditentukan dan mempunyai keunggulan, kekhususan berkualitas tinggi, mempunyai nilai tambah, lengkap dan memiliki hak paten. Otonomi daerah Dengan adanya semangat otonomi daerah, menurut Prof Haryono perlu ditelaah kembali. Berdasar hasil penelitian internasional, otonomi daerah pada saat-saat awal ternyata mengendorkan upaya-upaya yang pada tingkat nasional telah berhasil dengan baik. “Bupati-bupati biasanya tidak terlalu ingat bagaimana melayani bidannya tetapi masih berebut supaya dipilih kembali. Pejabat-pejabat kebingungan karena biasanya jadi kanwil sekarang rebutan kursi dengan kepala dinasnya.” Ditambahkannya lagi, banyak kasus terjadi di beberapa negara berkembang, mereka mengalami kemunduran gara-gara otonomi daerah. Banyak negara yang semula hebat menurunkan kematian ibu hamil dan melahirkan turun drastis gara-gara otonomi daerah mulai mengalami naik turun. Fenomena ini terjadi karena mereka menungu petunjuk dari pusat, sementara proyeknya belum turun maka anggaran pun belum ada. Padahal, otonomi daerah itu intinya harus diprakarsai dari daerah dan anggaran harus dicari dari kantong sendiri. Dengan adanya kegamangan itu, perlu dikembangkan strategi pemberdayaan yang mandiri untuk meningkatkan mutu keluarga, perempuan, anak-anak dan remaja di dalam proses pemberdayaan ibu sehat, keluarga sehat, keluarga yan beruntung, bekerja dan membangun. “Strategi ini bukan sekedar wacana, tetapi pada perubahan tingkah laku,” tegas Prof Haryono seraya menambahkan, “strategi yang perlu kita segarkan kembali adalah komitmen yang tinggi melindungi ibu-ibu dan anak-anak pemegang masa depan bangsa. Targetnya adalah dengan mengukur makin tingginya mutu punduduk Indonesia atas dasar human development index.” Bidan Mandiri Dari 70.000 bidan yang sudah mulai bergabung dengan posyandu dan Polindes di desa-desa, ungkap Prof Haryono, sekarang tinggal 22.000, sementara yang lainnya setelah kawin dan alasan lainnya telah beralih profesi. Ada yang menjadi istri kepala desa, istri camat, istri pedagang, sehingga melupakan ilmu kebidanan dan pertolongan untuk ibu hamil dan melahirkan.“Apabila kita ingin bidang kesehatan dan KB maju, pelayanan ibu sehat ini harus tetap dijadikan profesi kapanpun dimanapun kita berada,” cetus Prof Haryono. Ironisnya, pelayanan pemerintah berupa obat-obatan dan alat kontrasepsi mulai tahun 2004 hanya antara 20 – 30 %. Artinya, antara 70 –80 % harus dilayani masyarakat sendiri atau swasta. Oleh karena itu, perlu dilakukan advokasi agar bidan dengan kerjasama tim dokter dan akademisi pendidikan dapat meningkatkan mutu bidan sehingga kesehatan ibu dan anak dapat dideteksi secara dini. Kalau bidan tidak bisa melayani di tempat praktek atau di posyandu atau di polindes dapat diteruskan kepada para dokter. Pascasarjana Unair saat ini sedang menyiapkan suatu jaringan di sepuluh kota dan kabupaten sebagai payung proyek pertama, termasuk Surabaya, Malang dan sekitarnya. Untuk meningkatkan mutu dan jaminan ibu-ibu bidan ini akan dilakukan pertemuan sekitar dua atau tiga bulan sekali. Diharapkan, akan ada kerjasama dengan bank pembangunan daerah agar para bidan dapat menjadi anggota dan penerima kartu bidan mandiri, sehingga para bidan mudah menerima kartu kredit dari bank Jawa Timur untuk menolong para akseptor yang mungkin tidak bisa membayar kontan harga obat suntikan. “Obat suntikan 3 bulan dipakai sekali kalau bayar 3 bulan hanya pada waktu disuntik itu mahal, bisa dicicil seminggu sekali atau sebulan sekali, “ saran prof Haryono didepan `peserta forum seminar yang saat itu hadir pula beberapa pengurus BPD Jatim. Usulan lainnya, akan ada pelatihan bidan junior secara tersendiri. “Kalau dalam dua tahun sekali, bidan delima mengambil bidan senior, maka bidan junior akan kita latih juga. Sehingga ada semacam kerjasama yang erat, yang intinya adalah memberikan kesempatan sebanyak mungkin agar pasangan ibu yang ada dapat dibantu. Oleh karena itu sejalan dengan penyediaan pelayanan yang disediakan Bank Jatim, kita sediakan juga kontrasepsi mandiri, di setiap desa minimal ada 1 bidan mandiri.” Seminar yang dihadiri 230 pengurus IBI se-Jawa Timur dan Badan Pusat statistik (BPS) dari 15 cabang ini diharapkan dapat menambah pengayaan dari kegiatan dan program yang telah ada, sehingga memperkuat kemandirian dalam langkah serta pemberian pelayanan kepada masyarakat.

    TENAGA KESEHATAN DAN OTONOMI DAERAH

    TENAGA KESEHATAN DAN OTONOMI DAERAH

    Disusun oleh:

    1. Agustina Rismawati (12008002)

    2. Aprilinawati Sri R (12008012)

    3. Asih Trisnawati (12008015)

    4. Dona Wahyuana (12008032)

    5. Etik Suprihatin (12008040)

    6. Evi Okta Kholifasari (12008041)

    7. Indah Dwi Jayanti (12008054)

    8. Mika Agustina (12008077)

    9. Olexandria Tamara B (12008092)

    10. Ratih Susanti (12008099)

    AKADEMI KEBIDANAN ESTU UTOMO BOYOLALI

    2008 / 2009

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia,taufik dan hidayah-Nya kepada kami.Dengan demikian kami masih bisa menyelesaikan makalah ini tanpa suatu halangan apapun.Tak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak,seperti :

    1. Bpk. Miyono Spd selaku dosen pembimbing mata kuliah Kewarganegaraan yang dengan penuh kesabaran memberikan bimbingan kepada kita sekalian.

    2. Bapak ibu selaku orang tua yang telah memberikan dukungan baik materiil maupun spirituiil

    3. Teman-teman sekalian yang juga memberikan dukungan hingga terselesaikannya makalah ini

    Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca

    Harapan kami semoga makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi semua pihak,semoga Allah SWT senantiasa memberi petunjuk terhadap segala upaya yang kami lakukan dalam menyelesaikan makalah ini.

    Penulis

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Memasuki milenium ke III, mutu pelayanan kesehatan semakin mendapat perhatian di samping pemerataannya yang terus diupayakan. Namun demikian, dengan adanya perubahan pada berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan, seperti transisi demografi, keadaan makroekonomi dunia, serta perubahan sosiokultural masyarakat, maka tantangan dan hambatan terhadap upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal bagi seluruh masyarakat Indonesia menjadi semakin besar dan beragam.

    Kecenderungan munculnya penyakit-penyakit baru dalam daftar penyakit utama masyarakat, baik yang berkaitan dengan meningkatnya jumlah kelompok usia lanjut maupun akibat perubahan perilaku masyarakat, serta belum terkendalinya beberapa jenis penyakit lama, mengakibatkan pola penanganan penyakit masyarakat menjadi makin beragam. Perkembangan pola penyakit disertai dengan meningkatnya permintaan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu, membutuhkan dukungan sumber daya kesehatan yang semakin meningkat pula.

    Pada kenyataannya, penyediaan sumber daya pembangunan kesehatan tidak berkembang secepat pertumbuhan kebutuhannya. Hal ini semakin nyata bila hanya dilihat sumber daya yang ada pada pemerintah saja. Menyadari kenyataan itu, maka efisiensi dan efektifitas pemanfaatan sumber daya itu menjadi penting artinya.

    Dalam hal sumber daya manusia, untuk mencapai daya ungkit yang besar dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, mutu tenaga kesehatan merupakan issue strategis yang perlu mendapat perhatian utama di samping pendayagunaannya. Hal ini semakin penting, terutama dalam kaitan dengan efisiensi pemanfaatan sumber daya, karena anggaran kesehatan terbesar terserap oleh pembiayaan sumber daya manusia.

    Beberapa kebijakan ketenagaan yang telah diterapkan sejauh ini tujuannya adalah untuk meningkatkan pemerataan dan mutu pelayanan kesehatan, diutamakan untuk mendukung masyarakat berpenghasilan rendah di daerah terpencil. Kebijakan itu antara lain penempatan dokter/dokter gigi PTT dan pendayagunaan para dokter/ dokter gigi pasca PTT, khususnya pendayagunaan para dokter spesialis, baik yang ikatan dinas maupun non ikatan dinas. Hal ini guna memenuhi keinginan masyarakat yang semakin kritis akan mutu pelayanan kesehatan dan sangat mendambakan pelayanan terbaik bagi dirinya.

    Berbagai dimensi yang perlu mendapat perhatian dalam ketenagaan antara lain dapat dikelompokkan kedalam dimensi produksi, penyerapan/ pendayagunaan, perencanaan kebutuhan dan dimensi otonomi/desentralisasi.

    Dalam dimensi pertama, yaitu produksi tenaga kesehatan, beberapa pertanyaan mendasar adalah:

    1. Pihak/lembaga mana saja yang berperan dalam produksi tenaga kesehatan ?

    2. Bagaimana pembagian peran dan koordinasi kerja antar pihak-pihak itu?

    3. apakah pembagian peran dan koordinasi kerja itu efektif mengatasi tantangan dan kendala di bidang produksi tenaga kesehatan ?;

    4. apakah keadaan staf pengajar cukup memadai, baik dalam hal kualitas maupun kuantitasnya ?

    5. apakah keadaan sarana pendidikan memadai untuk menjamin mutu lulusan yang tinggi ? dan

    6. Berapa banyak lulusan yang termanfaatkan/terserap ?.

    Dimensi kedua, berkaitan dengan penyerapan/pendayagunaan tenaga kesehatan. Beberapa hal pertanyaan mendasar, seperti:

    1. Apakah kebijaksanaan ketenagaan selama ini efektif dalam pemerataan penempatan tenaga ?;

    2. Bagaimana dampak zero growth policy terhadap penyerapan tenaga ?; dan

    3. Apakah wajib kerja sarjana, khususnya PTT, berdampak positif terhadap pemenuhan kebutuhan tenaga di berbagai institusi ?.

    Dimensi ketiga, berkaitan dengan perencanaan kebutuhan tenaga. Beberapa pertanyaan mendasar, seperti :

    1. Metode apa yang digunakan untuk menyusun kebutuhan tenaga ?;

    2. Apakah sudah tersedia suatu proyeksi kebutuhan jangka panjang tenaga kesehatan sebagai pedoman arah penyusunan strategi bila dikaitkan dengan keadaan kesehatan di berbagai daerah ?;

    3. Bagaimana pola pengembangan infrastruktur pelayanan kesehatan jangka panjang, sebagai salah satu determinan rencana kebutuhan tenaga ?; dan

    4. apakah sistem informasi tenaga kesehatan memadai untuk mendukung perencanaan kebutuhan tenaga ?.

    Dimensi keempat, berkaitan dengan otonomi daerah/ desentralisasi. Beberapa pertanyaan mendasar adalah :

    1. Jenis ketenagaan apakah yang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah ?

    2. Bagaimana rencana daerah untuk mencukupi kebutuhan tenaga tersebut ?

    Dengan adanya perkembangan situasi akhir-akhir ini, kita makin dihadapkan pada keadaan yang tidak mudah. Hal ini erat kaitannya dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.

    BAB II

    PEMBAHASAN

    Dimensi produksi tenaga kesehatan menghadapi berbagai masalah kualitas dan kuantitas, khususnya untuk tenaga pendidik baik di fakultas kedokteran maupun keperawatan. Dari segi usia, sebagian besar dosen di fakultas kedokteran menginjak masa pensiun sedangkan tenaga pengganti sulit diperoleh. Sebaliknya, tenaga dosen di keperawatan mempunyai tingkat pendidikan yang sama, bahkan lebih rendah dari peserta didiknya. Sebagai contoh, lebih dari 70% tenaga pendidik di 237 akademi perawat adalah lulusan Jenjang Pendidikan Menengah (JPM) – setara dengan SPK, selebihnya adalah lulusan dari Jenjang Pendidikan Tinggi (JPT).

    Dari sisi kuantitas peserta didik, diproyeksikan pada tahun 2020 kebutuhan dokter diperkirakan adalah sebanyak 95,7 ribu dan kebutuhan dokter gigi adalah sekitar 39,4 ribu. Sedangkan produksi kedua tenaga tersebut pada kurun waktu yang sama adalah sekitar 126,8 ribu dokter dan 54,8 ribu dokter gigi.Untuk keperawatan, diproyeksikan sekitar lebih dari 670 ribu orang dari berbagai disiplin, sedangkan dari sisi kebutuhan diperkirakan hanya sekitar 411 ribu orang.Dengan demikian, akan terjadi kelebihan produksi tenaga-tenaga tersebut yang jika tidak ditangani dengan perencanaan yang baik akan menyebabkan kelak terjadinya pengangguran intelektual.

    Dimensi penyerapan/pendayagunaan juga menghadapi masalah serupa.Sejauh ini pendayagunaan tenaga kesehatan dilaksanakan melalui one gate policy yang berarti pendayagunaan semua lulusan tenaga kesehatan harus melalui Departemen Kesehatan.Keuntungan dari sistim ini adalah Departemen Kesehatan dapat mengevaluasi, mengendalikan dan memantau tenaga kesehatan.Sampai tahun 1993, hal ini tidak menjadi masalah, karena setiap tahunnya tersedia formasi sebesar

    20.000 setahunnya sehingga semua lulusan dapat diserap sebagai pegawai negeri dan ditempatkan pada institusi yang membutuhkan.Tahun 1994, Menteri Penertiban Aparatur Negara mengeluarkan kebijaksanaan zero growth sehingga formasi yang tersedia menjadi sekitar 5.500 pertahunnya.Dengan meningkatnya jumlah lulusan tenaga kesehatan tiap tahun, yang hingga saat ini mencapai jumlah kurang-lebih 26.000 orang, maka tidak semua lulusan dapat diserap menjadi pegawai negeri.

    Suatu gambaran tentang kemampuan daya serap melalui formasi sebagai PNS adalah lulusan Akademi Perawat yang berjumlah kurang lebih 8.600 orang/tahun, dan yang dapat diserap melalui formasi Inpres dan Rutin 1996/1997 hanya 493. Lulusan SPK dan Bidan berjumlah 10.400 orang, sedangkan formasi yang tersedia 1996/1997 hanyalah 3.605.Lulusan Jenjang Pendidikan Tinggi (JPT-DIII) diperkirakan menjadi 4.960 orang, sedang penyediaan formasi 1996/1997 adalah 926. Lulusan Jenjang Pendidikan Menengah (JPM) berjumlah 3.320 orang sedang formasi yang tersedia 1996/1997 adalah 1.473.Gambaran lain tentang penyerapan sebagai PNS pada tahun 1995 di kalangan tenaga Farmasi Apoteker tercatat sekitar 49% dan selebihnya sebanyak lebih kurang 3.500 orang bekerja di lingkungan BUMN dan Swasta.

    Pelaksanaan Wajib Kerja Sarjana bagi tenaga kesehatan telah memberikan kesempatan pada Depkes untuk dapat menyebarkan tenaga kesehatan di tempat-tempat yang memerlukan, sehingga diharapkan tidak terjadi kekosongan di suatu wilayah tertentu, dan kesempatan ini telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dengan adanya kebijaksanaan zero growth, maka pengangkatan/ penempatan tenaga kesehatan dilaksanakan dengan menggunakan alokasi formasi pengganti dan melalui pengangkatan PTT yang jumlahnya sangat terbatas.Tenaga pasca PTT diberi kesempatan untuk menjadi PNS melalui seleksi/persyaratan, namun jumlahnya hanya berkisar 10% dari jumlah yang diperlukan.Sisa dari para tenaga pasca PTT itu diharapkan dapat terserap oleh pelayanan kesehatan sektor swasta.

    Dimensi perencanan juga menghadapi masalah yang tidak sederhana.Sebagai antisipasi terhadap sebelum diterapkannya kebijaksanaan zero growth, Departemen Kesehatan melalui Keputusan Presiden Nomor 37 tahun 1991, mengambil kebijaksanaan mengangkat tenaga dokter sebagai pegawai tidak tetap atau PTT dalam menjalankan masa baktinya. Pengangkatan dimulai sejak Februari 1992 dan sampai saat ini telah diangkat lebih dari 10.000 dokter untuk mengisi berbagai sarana pelayanan kesehatan didaerah. Pada tahun 1994, pengangkatan PTT diperluas kepada dokter gigi dan bidan di desa.

    Berkaitan dengan tenaga Bidan, dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) di perdesaan untuk program penurunan angka kematian ibu dan anak, dalam Repelita V telah diupayakan untuk menempatkan tenaga Bidan di desa untuk memenuhi 54.120 desa yang belum terjangkau oleh pelayanan KIA. Sejak tahun 1989/1990 sampai dengan tahun 1998/1999, secara keseluruhan telah ditempatkan lebih dari 60.000 orang bidan, yang berarti hampir semua desa telah mempunyai tenaga bidan.Tahun ini sebagian dari bidan desa yang dipekerjakan melalui PTT, hampir menyelesaikan masa baktinya.Kini mereka ditawarkan untuk masa bakti kedua selama 3 tahun lagi (di desa semula) dan diharapkan setelah itu mereka dapat mandiri bekerja di desa tanpa harus menjadi Pegawai Negeri.

    BAB III

    TANTANGAN MASA DEPAN

    Kebijaksanaan pengangkatan PTT, selain untuk memenuhi kebutuhan tenaga, juga sekaligus digunakan untuk dapat mencapai pemerataan tenaga kesehatan, sehingga lulusan tenaga kesehatan yang pendayagunaannya melalui PTT, terkena wajib kerja Depkes.Permasalahan yang muncul dalam pola ini terutama disebabkan oleh adanya semacam one gate policy dalam penyerapan tenaga.Terbatasnya jumlah formasi PTT dibandingkan dengan jumlah produksi tenaga, dan ditambah lagi dengan preferensi lulusan terhadap wilayah-wilayah tertentu, utamanya lulusan yang wanita, berakibat keadaan menjadi tidak ubahnya dengan fenomena bottle neck dalam pendayagunaan lulusan, utamanya lulusan dokter.Stagnasi yang terjadi akibat fenomena ini telah dapat dilihat dampaknya, terutama pada penurunan ratio dokter Puskesmas.Adanya peminatan terhadap wilayah kerja tertentu, suatu keadaan yang memperberat stagnasi, kemungkinan timbul akibat sifat penempatan kerja untuk jangka waktu yang relatif lama.

    Dengan adanya one gate policy dan wajib kerja itu pula, kebutuhan tenaga kesehatan oleh sektor di luar pemerintah menjadi sulit terpenuhi. Pasar tenaga kesehatan yang nampaknya cukup potensial untuk menyerap tenaga, khususnya dokter, adalah perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang manajemen kesehatan, seperti asuransi jiwa. Peluang ini tidak dapat dimanfaatkan oleh karena tenaga kesehatan harus menunggu giliran di "PTT" kan dulu, tanpa kepastian berapa lama waktu tunggu itu.Hambatan penyerapan tenaga oleh sektor swasta itu mendorong lulusan baru untuk bekerja secara ilegal pada berbagai institusi kesehatan swasta, dengan alasan "mengisi waktu tunggu PTT".Di samping itu, hambatan, pada gilirannya, diperkirakan juga akan terjadi pada pemenuhan kebutuhan dokter spesialis akibat persyaratan PTT sebelum pendidikan lanjut. Tantangannya adalah bagaimana sektor swasta dapat mendayagunakan tenaga kesehatan di berbagai daerah sejalan dengan otonomi daerah.

    Adanya preferensi untuk bekerja pada wilayah-wilayah tertentu, mengancam tidak tercapainya pemerataan penyediaan tenaga kesehatan pada daerah-daerah yang kurang diminati. Selain itu terdapat kecenderungan penurunan penempatan dokter di daerah terpencil dan sangat terpencil.Sebagaimana disebutkan sebelumnya, masa kerja yang relatif lama, bahkan kemungkinan tidak kembali bagi tenaga paramedis, menyebabkan pemilihan lokasi tugas menjadi titik crucial bagi masa depan petugas.Apalagi belum nampak adanya indikasi bahwa sistem tour of duty akan diterapkan, sehingga kekhawatiran petugas akan kemungkinan “terbenam” di tengah-tengah medan tugas dengan berlakunya waktu, cukup beralasan. Inilah tantangan lain yang harus dihadapi di sektor kesehatan.

    Berkaitan dengan pengangkatan secara PTT yang dibatasi untuk masa kontrak tiga tahun, secara psikologis dapat berakibat kurangnya konsentrasi petugas terhadap tugas-tugasnya. Walaupun harapan menjadi pegawai negeri masih ada, namun secara statistik kemungkinan itu tidak lebih dari 10%. Oleh karena itu, pembatasan masa kontrak itu menjadi semacam isyarat bahwa setelah tiga tahun seorang petugas PTT akan menghadapi keadaan putus hubungan kerja. Hal ini menyebabkan yang bersangkutan mungkin lebih tertarik untuk memikirkan masa pasca PTT daripada semasa PTT.

    BAB IV

    ALTERNATIF PENYEMPURNAAN KEBIJAKAN

    Sehubungan dengan berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi berkaitan dengan upaya pemerataan pemenuhan kebutuhan tenaga medis dan paramedis seperti dikemukakan di atas, beberapa pertanyaan berikut mungkin perlu menjadi pertimbangan dalam menyempurnakan kebijakan ketenagaan kesehatan di masa yang akan datang:

    1. Apakah wajib kerja masih relevan untuk dipertahankan ?

    Selain hal ini menimbulkan berbagai permasalahan sebagaimana tersebut di atas, ada pandangan yang melihat dengan berkembangnya demokrasi, wajib kerja semakin tidak sejalan dengan modernisasi budaya walaupun institusi pendidikan tempat calon tenaga kesehatan disubsidi pemerintah.Apabila wajib kerja menjadi kurang sesuai lagi, maka alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah pengangkatan tenaga kesehatan melalui mekanisme pasar tenaga kerja.Dalam hal ini, Depkes sebagai organisasi kesehatan pemerintah, menjadi salah satu pilihan tempat kerja lulusan baru.

    2. Apakah kontrak kerja PTT dapat dipertahankan tanpa perpanjangan ?

    Uraian di atas menunjukkan adanya konsekuensi logis dari pembatasan masa kontrak itu.Data menunjukkan hanya kurang-lebih 10% dari para dokter PTT yang dapat diangkat menjadi PNS. Dengan kata lain, hampir 90% akan mengalami PHK. Keadaan ini sangat counter productive, bagi pembinaan karier petugas.Oleh karenanya, perpanjangan kontrak hingga waktu yang tak terbatas, melalui tahapan 2-3 tahun, dapat menjadi alternatif pendayagunaan tenaga PTT.

    3. Bagaimana tenaga PTT sebaiknya didaya-gunakan ?

    Tenaga PTT pada hakekatnya merupakan tenaga kesehatan profesional.Oleh karena itu, dalam pemanfaatan mereka, perlu ketegasan tugas dan fungsinya yang sesuai dengan profesinya.Tenaga dokter, misalnya, sebaiknya didaya-gunakan sebatas profesi teknis medisnya saja, karena pemanfaatan mereka sebagai manajer/administrator akan berakibat menurunnya efektifitas upaya medis akibat ditangani tenaga yang kurang kompeten.Pemanfaatan tenaga kesehatan PTT sesuai dengan profesinya memungkinkan masa kerja di satu lokasi dipersingkat, misalnya 6 bulan, sehingga adanya tour of duty menjadi lebih dimungkinkan.Dengan demikian, kekhawatiran petugas akan nasib buruk akibat memperoleh wilayah yang tidak disukai, dapat dikurangi karena semua PTT akan digilir ke semua lokasi di wilayah negeri ini.

    4. Kategori tenaga apa yang seyogyanya didayagunakan sebagai PNS ?

    Pada prinsipnya, mereka yang perlu didayagunakan sebagai PNS adalah petugas/pejabat yang berkaitan dengan tugas administrasi pemerintahan.Mereka adalah orang-orang yang akan duduk dalam struktur organisasi pemerintah.Untuk ini, jenis pendidikan serta pengembangan kariernya, perlu secara konsisten diarahkan untuk tugas-tugas administrasi.Tidak tertutup kemungkinan tenaga kesehatan PTT beralih menjadi tenaga administrasi kesehatan setelah melalui pendidikan dan pelatihan formal, namun status PNS seyogyanya tidak dijadikan suatu daya tarik/imbalan bagi PTT yang berprestasi, karena peran dan fungsinya maupun alur pengembangannya berbeda sama sekali.Apabila pendaya-gunaan tenaga PTT akan mengikuti pola tour of duty, dengan lama kerja di satu pos tidak lebih dari 6 bulan, maka sebaiknya yang didaya-gunakan sebagai PTT adalah tenaga kesehatan fungsional, utamanya yang berkaitan dengan penyampaian pelayanan kesehatan.

    Permasalahan yang kita hadapi ini makin menjadi lebih kompleks dengan diberlakukannya otonomi daerah. Apakah one gate policy masih “relevan” diberlakukan sejalan dengan otonomi daerah tersebut ? Bagaimana perpindahan tenaga kesehatan dari satu daerah ke daerah lainnya ? Instansi manakah yang akan mengatur hal ini ? Oleh karena itu, pemberian otonomi daerah dalam bidang pendayagunaan tenaga perlu secara bertahap dikembangkan agar mampu berperan aktif dalam pengembangan dan pembinaan profesi.

    PENUTUP

    Demikian pokok-pokok pemikiran yang berkaitan dengan upaya penyempurnaan kebijakan ketenagaan kesehatan dalam kaitannya dengan desentralisasi atau otonomi daerah. Di masa depan, sebagai bangsa kita dituntut untuk menyiapkan diri dengan baik agar mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan, yang dari waktu ke waktu terasa semakin berat. Dengan demikian kita ditantang untuk membangun sumber daya manusia yang memiliki semangat profesional, semangat pembaharuan (reformasi), serta komitmen dan tekad yang kuat untuk mengubah keadaan dan memperbaiki bangsa.

    DAFTAR PUSTAKA

    www.google.com